Lebih Baik Ngontrak atau KPR? Simak Perbandingan Biaya Rumah Murah Malang 2025

Setiap orang punya momen ketika duduk diam di kamar kontrakan, menatap plafon, lalu bertanya dalam hati: “Sampai kapan aku bayar rumah orang?” Pertanyaan yang sama juga muncul di ribuan kepala anak muda di Malang, terutama di 2025 ini ketika biaya hidup makin naik dan kontrakan pun tak pernah mengenal kata turun harga.

Kontrakan yang dulunya hanya Rp700–900 ribu per bulan kini dengan mudah melonjak menjadi Rp1,2 juta bahkan lebih. Nominal yang terlihat kecil di awal ini ternyata menumpuk menjadi pengeluaran besar dalam jangka panjang. Dan di sinilah pertanyaan besar itu muncul: apakah masih masuk akal terus ngontrak, ketika cicilan KPR rumah murah Malang sekarang tidak jauh berbeda?

Ngontrak: Praktis, Tapi Tidak Memberi Kepemilikan

Tinggal di kontrakan memang memberi fleksibilitas. Bisa pindah kapan saja, bisa memilih lokasi yang paling dekat dengan tempat kerja, dan tidak perlu memikirkan perawatan jangka panjang. Namun fleksibilitas ini datang dengan “harga tersembunyi”: pengeluaran yang tidak pernah kembali.

Banyak keluarga menyadari bahwa setelah lima atau sepuluh tahun, uang yang dibayarkan untuk kontrakan setara dengan uang muka rumah atau bahkan mendekati harga rumah subsidi Malang itu sendiri. Ketika biaya sewa terus naik, keputusan untuk bertahan di kontrakan terasa semakin tidak ekonomis.

KPR Rumah Murah Malang: Cicilan Mirip Kontrakan, Tapi Jadi Aset

Di sisi lain, program rumah subsidi Malang memberikan alternatif yang sangat masuk akal. Cicilan mulai Rp900 ribuan—angka yang tidak jauh dari biaya kontrakan rata-rata di area Pakis, Blimbing, hingga Tumpang. Bahkan ada yang menawarkan DP hanya Rp6 juta dan bisa dicicil.

Di kawasan Pakis misalnya, proyek seperti Skyland Sekarpuro dan SkyBriza berada dekat pintu tol, dekat bandara, dan terhubung dengan Sawojajar. Kawasan yang berkembang seperti ini biasanya mengalami kenaikan harga tanah cukup cepat, sehingga rumah yang dibeli hari ini berpotensi memiliki nilai yang jauh lebih tinggi beberapa tahun ke depan.

Karangploso juga tak kalah strategis. Akses mudah ke Kota Batu, dekat tol Singosari, plus perkembangan komersial yang pesat menjadikan area ini populer untuk rumah subsidi sekaligus investasi jangka panjang.

Dengan KPR, cicilan tidak hanya “hilang”—melainkan berubah menjadi aset nyata.

Ketika Perhitungan Finansial Mulai Masuk Akal

Perbandingan biaya mulai terlihat jelas ketika dihitung jangka panjang. Misalnya, biaya kontrakan Rp1,2 juta per bulan selama 10 tahun bisa mencapai lebih dari Rp140 juta. Jumlah itu habis tanpa jejak.

Tetapi dengan cicilan KPR rumah murah Malang di angka Rp1 jutaan per bulan, nominal yang sama dalam 15 tahun berubah menjadi rumah senilai 160–200 jutaan. Nilainya pun bisa naik seiring berkembangnya kawasan.

Kenyataan bahwa cicilan hampir setara dengan kontrakan tapi memberikan aset di akhir periode, menjadi alasan mengapa semakin banyak keluarga muda dan pekerja di Malang mulai melirik rumah subsidi.

Tanpa Harus Memiliki Rumah Besar, yang Penting Milik Sendiri

Banyak orang dulu membayangkan punya rumah berarti harus besar, mahal, dan penuh beban finansial. Tapi rumah murah Malang hari ini mengubah cara pandang itu. Unit tipe 30/60, 36/60, atau unit subsidi standar mungkin tidak megah, tetapi cukup untuk memulai hidup lebih tenang tanpa khawatir dipindahkan pemilik kontrakan.

Bagi banyak orang, kepastian ini lebih berharga daripada ukuran rumahnya.

Tidak ada lagi drama pindah kontrakan setiap kali masa sewa habis. Tidak ada lagi ketakutan ketika pemilik rumah menaikkan harga mendadak. Tidak ada lagi perasaan seperti “menitipkan masa depan di rumah orang lain.”

Pada akhirnya, keputusan antara ngontrak atau KPR bukan sekadar soal cicilan bulanan. Ini soal arah finansial jangka panjang di tengah harga tanah yang terus naik dan ketersediaan rumah subsidi Malang yang semakin terbatas.

Kontrakan memang memberikan kebebasan.
Tapi KPR rumah murah Malang memberikan kepemilikan.

Dan di tahun 2025 ketika biaya kontrakan mendekati cicilan KPR pilihan itu mulai terlihat semakin jelas: lebih baik mencicil rumah sendiri daripada terus membayar rumah orang lain.

skylandnusantara.com

Blog Lainnya